duniaku. duniamu. beda dan aku bersumpah tak akan peduli lagi
Untuk ketukan pintu yang tidak ada bosannya mengingatkan sembahyang subuh dan olahraga. Berjuang saya kini atas nama Ibu, agar ia bangga bahwa cinta itu nyata dan perjuangannya bersama Bapak tidak sia-sia.
Jauh jarak yang sudah mereka tempuh. Saya tidak pernah dengar Ibu atau Bapak mengeluh. Bangga saya luar biasa dilahirkan dari rahim seorang pejuang. Dibesarkan oleh pekerja keras, Bapak pencari uang.
Pagi ini saya tawarkan Bapak, “Pak, mau dibelikan pencukur kumis dan jenggot yg elektrik seperti yang saya punya.” Bapak bilang, “Nggak usah nak, kamu sudah bisa hidup sendiri saja Bapak sudah senang.”
Saya tau betul, bahagianya orang tua adalah kebahagiaan anaknya merupakan hal yang benar-benar nyata. Darah ini adalah darah mereka. Daging ini adalah daging mereka. Mereka melihat anak seperti melihat diri mereka yang kembali muda. Itulah alasan terkuat mereka kerap ikut mengatur dan menarik kita kepikirannya, mungkin. Kita senang kan mengatur diri sendiri?
Cinta antara saya, Ibu dan Bapak, bukan sesuatu yang dicari-cari. Bukan pula datang karena terbiasa dan hal-hal sistematis lainnya. Mereka adalah saya dan sebaliknya. Wahai Zat Mulia peramu alam, bahagiakan mereka dan beri saya jalan untuk lakukan hal yang sama.
Keringat hasil lari pagi ini, agar saya sehat dan kuat. Seperti apa yang Ibu inginkan, seperti apa yang Bapak harapkan.
Tulus.
Kutwitnya @udayusuf tentang #jangankuliah. Rada menyentil ya haha. Ridwansyah Yusuf ini mantan ketua BEM ITB beberapa tahun lalu dan mempunyai cita-cita untuk membawa masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang madani :)

halo mahasiswa tingkat akhir! semoga saya selalu bisa jadi semangat buat nyelesein Tugas Akhir, ga pernah bosen ngasih semangat buat kamu, dengerin keluhan kamu. ayo sayang, september sebentar lagi. hari kamu dilahirkan, satu tahunnya kita, dan.. wisuda kamu!
| — | (via kotahujan) |


